BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Budaya
Kejadian
1:28
“ Allah Memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan
bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas
ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang
merayap di bumi."
Pada mulanya sejak manusia diciptakan, Tuhan memberi mandat
kepada manusia yang sifatnya turun temurun dan mandat itu sampai sekarang masih
berlaku yang disebut dengan “Budaya” sebagaimana dalam pengertiannya bahwa
budaya itu sifatnya turun temurun dan tetap terpelihara yang walaupun budaya
ini sangat sempit dan sederhana.
.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian Budaya?
2. Unsur – unsur apa saja yang
mempengaruhi Budaya?
3. Faktor yang mempengaruhi Berubahnya
suatu kebudayaan oleh kebudayaan baru?
4. Bagaimanakah kaitan manusia dan
budaya?
5. Bagaimana kedudukan manusia dan
budaya?
1.3 Tujuan
Kebudayaan dalam kehidupan manusia
memegang peranan penting. Dengan kebudayaan manusia merasakan adanya ketenangan
batin yang tak bisa di dapatkan dari manapun. Dengan mempelajari hubungan
manusia dan kebudayaan dapat di ketahui bahwa manusia membutuhkan kebudayaan
untuk bersosialisasi dengan mahluk yang lain.
BAB II
PEMBAHASAN
1.1. Pengertian Kebudayaan
Kata kebudayaan berasal dari kata budh—> budhi —> budhaya dalam bahasa
sansekerta yang berarti akal, sehingga kebudayaan diartikan sebagai hasil
pemikiran atau akal manusia. Ada pendapat yang mengatakan bahwa kebudayaan yang
berasal dari kata budi dan daya. Budi adalah akal yang merupakan unsur rohani
dalam kebudayaan, sedangkan daya berarti perbuatan atau ikhtiar sebagai unsure
jasmani, sehingga kebudayaan diartikan sebagai hasil dari akal dan ikhtiar
manusia (supartono, 2001; Prasetya, 1998).
Dari definisi-definisi kebudayaan dapat dinyatakan bahwa
inti pengertian kebudayaan mengandung beberapa ciri pokok, yaitu sebagai
berikut :
a. Kebudayaan itu beraneka ragam.
b. Kebudayaan itu diteruskan melalui
proses belajar.
c. Kebudayaan itu terjabarkan dari
komponen biologi, psikologi, sosiologi, dan eksistensi manusia.
d. Kebudayaan itu berstruktur.
e. Kebudayaan itu terbagi dalam
aspek-aspek.
f. Kebudayaan itu dinamis.
g. Nilai-nilai dalam kebudayaan itu relative
1.2 Unsur-unsur Kebudayaan
Suatu kebudayaan tidak akan pernah ada tanpa adanya beberapa
sistem yang mendukung terbentuknya suatu kebudayaan, sistem ini kemudian
disebut sebagai unsur yang membentuk sebuah budaya, mulai dari bahasa,
pengetahuan, tekhnologi dan lain lain. Semua itu adalah faktor penting yang harus
dimiliki oleh setiap kebudayaan untuk menunjukkan eksistensi mereka, Yaitu :
- Bahasa
yaitu
suatu sistem perlambangan yang secara arbitrel dibentuk atas unsur – unsur bunyi ucapan manusia yang
digunakan sebagai gagasan sarana interaksi.
- Sistem
pengetahuan yaitu semua hal yang diketahui manusia dalam suatu
kebudayaan mengenai lingkungan alam maupun sosialnya menurut azas – azas
susunan tertentu
- Organisasi
sosial yaitu
keseluruhan sistem yang mengatur semua aspek kehidupan masyarakat dan
merupakan salah satu dari unsur kebudayaan universal.
- Sistem
peralatan hidup dan tekhnologi yaitu rangkaian konsep serta
aktivitas mengenai pengadaan, pemeliharaan, dan penggunaan sarana hidup
manusia dalam kebudayaannya.
- Sistem mata pencarian hidup yaitu rangkaian aktivitas
masyarakat yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam konteks
kebudayaan
- Kesenian
yaitu
suatu sistem keindahan yang didapatkan dari hasil kebudayaan serta
memiliki nilai dan makna yang mendukung eksistensi kebudayaan tersebut
- Sistem
religi yaitu rangkaian keyakinan
mengenai alam gaib, aktivitas upacaranya serta sarana yang berfungsi melaksanakan komunikasi
manusia dengan kekuatan alam gaib
1.3 Faktor yang mempengaruhi
Berubahnya suatu kebudayaan
- Faktor
intern
merupakan faktor yang berasal dari masyarakat itu sendiri yang menyebabkan
perubahan kebudayaan, yang diantaranya:
- Perubahan
penduduk,
seperti: Kelahiran, Kematian, dan Migrasi.
- Sifat masyarakat yang terbuka, maksudnya sifat yang menerima
budaya asing baik yang yang sudah membaur di masyarakat.
- Adanya
penemuan baru, seperti: Adanya ide atau alat baru yang sebelumnya
belum pernah ada (Discovery),
Penyempurnaan penemuan baru (Invention),
dan Proses pembaharuan atau melengkapi atau mengganti yang telah ada (Innovation).
- Konflik
yang terjadi di dalam masyarakat. Konflik dapat merubah
kepribadian orang-orang yang terlibat di dalamnya, misalnya menjadi
pendiam, murung, tidak mau bergaul, atau bahkan berusaha memperbaiki
keadaan tersebut supaya menjadi lebih baik.
- Pemberontakan
atau revolusi. Hal ini menyebabkan perubahan pada struktur
pemerintahan pada suatu negara.
- Faktor
ekstern merupakan
faktor yang berasal dari luar masyarakat melalui interaksi sosial yang
mendorong terjadinya suatu perubahan kebudayaan, yang diantaranya:
- Peperangan. Hal ini dapat menyebabkan
perubahan yang mendasar pada suatu negara baik seluruh wujud budaya
(sistem budaya, sistem sosial, dan unsur-unsur budaya fisik) maupun
seluruh unsur budaya (sistem pengetahuan, teknologi, ekonomi, bahasa,
kesenian, sistem religi, dan kemasyarakatan). Biasanya akibat ini lebih
berpengaruh kepada negara yang kalah.
- Perubahan
alam.
Pada zaman sekarang sebagian besar hal ini disebabkan oleh tindakan
manusia sendiri yang menyebabkan kerusakan alam, seperti mebuang sampah
sembarangan, penebangan liar, pembangunan terus menerus di lahan
pertanian, dan masih banyak lagi. Hal ini dapat merugikan manusia sendiri
seperti kehilangan keluarga, tempat tinggal, harta benda, dan sarana umum
lainnya.
- Pengaruh
budaya lain,
seperti: Penyebaran kebudayaan (Difusi),
Pembauran antar budaya yang masih terlihat masing-masing sifat khasnya (Akulturasi), dan Pembauran antar
budaya yang menghasilkan budaya yang baru tanpa terlihat budaya yang lama
sama sekali (Asimilasi).
- Ajaran agama yang berlaku, misalnya perayaan hari-hari
besar keagamaan kini menyebar keseluruh penjuru dunia.
- Semakin canggihnya Iptek, Manusia cenderung mengikuti
perubahan zaman, terlebih dalam media komunikasi misalnya, TV, Jejaring
social, Radio, Koran, dsb.
1.4. Kaitan Manusia Dan Budaya
Manusia sebagai pelaku kebudayaan yakni dapat dipandang setara yang dinyatakan sebagai dialektis, proses dialektis tercipta melalui tiga tahap:
- Eksternalisasi, proses manusia mengekspresikan
dirinya dalam membangun dunianya
- Obyektivitas, proses msyarakat menjadi realitas
obyektif, yaitu kenyataan yang terpisah dari manusia dan berhadapan dengan
manusia
- Internalisasi, proses masyarakat disergap
kembali oleh manusia, yakni manusia yang mempelajari kembali masyarakatnya
sendiri agar dapat idup dengan baik.
1.5. Kedudukan Manusia Terhadap Kebudayaan
Manusia
dan kebudayaan pada dasarnya memiliki hubungan yang sangant erat
kaitannya, karena seluruh kegiatan manusia yang di kerjakaannya setiap saatnya
merupakan sebuah kebudayaan. Berikut ini adalah 4 kedudukan manusia terhadap
kebudayaan:
- Penganut Kebudayaan
- Pembawa Kebudayaan
- Manipultor kebudayaan
- Pencipta kebudayaan
Apa yang
tercakup dalam satu kebudayaan tidak akan jauh menyimpang dari kemauan manusia
yang membuatnya. Dari sisi lain, hubungan antara manusia dan kebudayaan ini
dapat dipandang setara dengan hubungan antara manusia dengan masyarakat
dinyatakan sebagai dialektis, maksudnya saling terkait satu sama lain. Proses
dialektis ini tercipta melalui tiga tahap yaitu :
1. Ekstemalisasi, yaitu proses
dimana manusia mengekspresikan dirinya dengan membangun dunianya. Melalui
ekstemalisasi ini masyarakat menjadi kenyataan buatan manusia
2. Obyektivasi, yaitu proses dimana
masyarakat menjadi realitas obyektif, yaitu suatu kenyataan yang terpisah dari
manusia dan berhadapan dengan manusia. Dengan demikian masyarakat dengan segala
pranata sosialnya akan mempengaruhi bahkan membentuk perilaku manusia.
3. Internalisasi, yaitu proses dimana masyarakat disergap kembali oleh manusia. Maksudnya bahwa manusia mempelajari kembali masyarakatnya sendiri agar dia dapat hidup dengan .baik, sehingga manusia menjadi kenyataan yang dibentuk oleh masyarakat.
3. Internalisasi, yaitu proses dimana masyarakat disergap kembali oleh manusia. Maksudnya bahwa manusia mempelajari kembali masyarakatnya sendiri agar dia dapat hidup dengan .baik, sehingga manusia menjadi kenyataan yang dibentuk oleh masyarakat.
1.6. Pandangan/Tinjauan Agama mengenai
Budaya manusia
Perbedaan
antara agama dan budaya tersebut menghasilkan hubungan antara iman-agama dan
kebudayaan. Sehingga memunculkan hubungan
antara agama dan budaya. Akibatnya, ada beberapa sikap hubungan
antara Agama dan Kebudayaan, yaitu:
1.
Sikap Radikal: Agama menentang Kebudayaan. Ini
merupakan sikap radikal dan ekslusif, menekankan pertantangan antara Agama dan
Kebudayaan. Menurut pandangan ini, semua sikon masyarakat berlawanan dengan
keinginan dan kehendak Agama. Oleh sebab itu, manusia harus memilih Agama
atau Kebudayaan, karena seseorang tidak dapat mengabdi kepada dua tuan.
Dengan demikian, semua praktek dalam unsur-unsur kebudayaan harus ditolak
ketika menjadi umat beragama. Ini disebabkan adanya kebudayaan yang
bertentangan dengan ajaran suatu agama misalnya, kebudayaan masyarakat suku
Dayak di pedalaman Kalimantan, kepercayaan terhadap Nyi Roro Kidul di Pesisir
Jawa bagian selatan, dan sebagainya.
2.
Sikap Akomodasi: Agama Milik Kebudayaan. Sikap
ini menunjukkan keselarasan antara Agama dan kebudayaan. Misalnya, Silahturahmi
dan saling bermaaf-maafan di Hari Raya Idul Fitri bagi yang beragama Islam,
Perayaan Natal setiap Bulan Desember bagi Umat Nasrani, perayaan Hari Raya
Nyepi bagi yang beragama Hindu, dan Waisak bagi yang beragama Budha.
3.
Sikap Perpaduan: Agama di atas Kebudayaan. Sikap
ini menunjukkan adanya suatu keterikatan antara Agama dan kebudayaan. Hidup dan
kehidupan manusia harus terarah pada tujuan ilahi dan insani manusia harus
mempunyai dua tujuan sekaligus.
4.
Sikap Pambaharuan: Agama Memperbaharui Kebudayaan.
Sikap ini menunjukkan bahwa Agama harus memperbaharui masyarakat dan segala
sesuatu yang bertalian di dalamnya. Hal itu bukan bermakna memperbaiki dan
membuat pengertian kebudayaan yang baru; melainkan memperbaharui hasil kebudayaan.
Oleh sebab itu, jika umat beragama mau mempraktekkan unsur-unsur budaya, maka
perlu memperbaikinya agar tidak bertantangan ajaran-ajaran Agama.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Secara sederhana hubungan manusia dan kebudayaan adalah
sebagai perilaku kebudayaan dan kebudayaan merupakan obyek yang dilaksanakan
manusia. Dalam ilmu sosiologi manusia dan kebudayaan dinilai sebagai dwi
tunggal yang berarti walaupun keduanya berbeda tetapi keduanya merupakan satu
kesatuan. Manusia menciptakan kebudayaan setelah kebudayaan tercipta maka
kebudayaan mengatur kehidupan manusia yang sesuai dengannya. Karena adanya aneka ragam bentuk hubungan Agama dan Kebudayaan tersebut,
maka solusi terbaik adalah perlu pertimbangan – pengambilan keputusan
etis-teologis (sesuai ajaran agama). Walaupun untuk mencapai hal tersebut tidak
mudah.
B. Saran
Manusia hidup karena adanya kebudayaan, sementara itu
kebudayaan akan terus hidup dan berkembang manakala manusia mau melestarikan
kebudayaan dan bukan merusaknya. Dengan demikian manusia dan kebudayaan tidak
dapat dipisahkan satu sama lain. Maka dari itu, sebagai manusia yang berbudaya
kita harusnya mampu untuk terus dan tetap melestarikan budaya yang baik dan
sesuai dengan Firman Tuhan sebagaimana
hakikat kita sebagai manusia diciptakan oleh Tuhan bukan untuk kita sendiri
sebagai manusia tetapi senantiasa memuliakan Tuhan dengan apa yang kita lakukan
dan apa yang kita miliki. Haleluyah…